Pendekatan Kecil yang Berdampak Besar Bagi Seorang Fitriani

Fitriani, Kelahiran 31 Agustus 1997 ( 21 tahun ), Gp. Mamplam, kec. Simpang Tiga, Kab. Pidie, Ragam disabiltas: Rungu

Fitriani merupakan salah satu penyandang disabilitas yang berasal dari gampong Mamplam, Dusun Tanjong,  Kecamatan Simpang Tiga, Fitri mengalami disabilitas rungu sejak lahir, telinganya selalu bernanah dan berair, sebutan dalam bahasa Aceh ( Tungkik ), oleh orang tuanya sudah pernah dibawa berobat, tetapi tetap tidak sembuh, selain itu orang tuanya juga pernah konsultasi dengan bidan/ dokter anak, menurut diagnosanya memang itu sudah bawaan lahir, oleh sebab itu pendengarannya terganggu hingga sekarang, Fitri anak ke 3 dari 6 bersaudara, 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, semuanya masih tinggal bersama orang tua dalam sebuah rumah bantuan tsunami dari BRR dengan tipe 36, dan belum ada yang berkeluarga, kedua orangtua nya hanya seorang petani, fitriani sejak kelas 5 SD sudah mulai bekerja sebagai buruh ketok kerupuk muling milik orang ( Kak Adidah ) dengan upah yang diperoleh perhari Rp 10,000, perharinya fitri sanggup menyelesaikannya sekitar 3 bambu, jenis emping yang diketok nya adalah jenis lose. Selain itu, 2 orang abangnya juga bekerja di Banda Aceh ( 1 orang bekerja di tempat pemasangan spanduk rokok, sedangkan 1 orang lagi bekerja sebagai penjual nasi goreng ). Separuh dari pendapatan abang-abangnya diberikan kepada orang tua mereka.

Pada tahun 2018 Fitriani mendapatkan pendampingan oleh PASKA ACEH, melalui sebuah program yang konsen terhadap disabilitas yaitu program ACBID (Pembangunan Inklusi Bersumberdaya Masyarakat Aceh ), yang di danai oleh CBM. Pada saat pendataan, CO berkoordinasi dengan keuchik mengenai data disabilitas, keuchik menyampaikan bahwa ada salah seorang disabilitas digampong yang bernama Fitriani, disabilitas rungu, anak nya sangat pemalu, minder dan tertutup, bahkan orang tua nya sendiri menutup kondisi anaknya, Fitri hanya berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitar rumahnya saja, sedangkan untuk keluar dari gampong Fitri selalu didampingi oleh adiknya yang bernama Diana.

Selanjutnya, PASKA Aceh melakukan sosialisasi program ACBID, dan kemudian CO melakukan Verifikasi data disabilitas langsung kerumah-rumah, termasuk ke rumah Fitriani, kondisinya saat itu malu-malu dan orang tuanya pun menutupi kondisi anaknya. Beberapa minggu kemudian CO mengunjungi lagi dan mengatakan kepada Fitri dan orang tuanya tentang adanya pendampingan pelatihan Vokasi, CO menjelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan tentang pelatihan, bentuk pendampingan, dan motivasi, akhirnya Fitri tertarik dan orang tuanya mengizikan anaknya untuk ikut pelatihan, Fitri ingin sekali untuk belajar menjahit seprai. CO memfasilitasi Fitri untuk berkenalan dan berinteraksi dengan pelatih yang bernama Maimunah, serta menjelaskan tentang kondisi Fitri kepada pelatih.

Fitriani sedang mengukur kain untuk dijahit menjadi seprai

Fitriani yang didampingi oleh adik nya setiap hari pergi ikut pelatihan ke Gampong Ujong Gampong, Kemukiman tunggue, kec. Simpang Tiga, harus ditunggu hingga selesai dan fitri tidak pernah berinteraksi dan berbicara dengan orang-orang atau peserta kustum lainnya, tetapi hari demi hari dilalui oleh Fitri dengan semangat, hingga akhirnya perubahan tampak pada diri Fitriani, ia tidak perlu pendampingan lagi oleh adiknya, sudah tidak malu dan minder lagi, banyak senyum dan tertawa, ditambah lagi berani mengendarai sepeda motornya sendiri.

Selain pendampingan pelatihan vokasi,  Fitri juga sudah difasilitasi berupa alat bantu pendengaran ( Hearing Aid ) oleh Paska Aceh, dengan adanya dukungan semua ini sekarang Fitri terlihat sebagai anak yang sangat periang dan lebih percaya diri, serta sudah bergabung dan terlibat aktif dalam sebuah kelompok KSM inklusi ( Putik Mamplam ) yang didampingi oleh PASKA Aceh. Setelah pelatihan vokasi selesai,  Fitri langsung dipercaya dan bekerja menjahit seprai milik pelatih, dengan upah yang diterimanya sama dengan pekerja yang lain, yaitu sesuai dengan banyaknya jahitan, seprai rimpel + seprai polos upahnya perlembar Rp 4000, bantal petak Rp 5000, bantal guling Rp 2000, pelatih membayar upah untuk Fitri perbulan minimal 3 kali ambilan, setiap ambilan minimal Rp 80,000 dan maksimal Rp 200,000. Selain itu juga fitri sudah menerima order orang lain, seperti milik masyarakat gampong dan pegawai puskesmas. Selain menjahit seprai, di masa pandemi ini Fitri menerima orderan menjahit masker milik PASKA. Pendukung dari keseriusan dan semangat fitri menjahit adalah karena mendapatkan fasilitas mesin jahit yang difasilitasi oleh PASKA Aceh.

Fitriani dan mesin jahit yang difasilitasi oleh program ACBID untuk menunjang kegiatannya sebagai penjahit

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *