Memanen Rezeki Di Tengah Wabah COVID – 19

Menjadi disabilitas bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan, semua bisa dilakukan sesuai kemampuan diri dan terus memotivasi diri untuk tidak menyerah. Mahdelana, seorang disabilitas daksa yang lahir tanggal 13 Oktober 1982 di gampong Paya, Kecamatan Pidie yang merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Kakak (laki-laki) nya meninggal dunia tahun 1997 karena sakit dan adik laki-lakinya meninggal dunia setelah lahir. Ayahnya yang  seorang pedagang kelontong juga menyusul meninggal dunia tahun 2015 karena sakit. Saat ini Mahdalena hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya.

Sebelumnya Mahdalena menimba ilmu di MUDI MESRA – pesantren Salafiah selama 8 tahun (2002 – 2010) dan mendapatkan ijazah, kemudian mengabdikan diri untuk menjadi guru pengajian di desa Paya dari tahun 2010 – sekarang. Upah dari mengajar mengaji didapat dari infak anak-anak yang berjumlah ± 30 orang. KUA juga memberikan insentif Rp 50.000 – Rp 200.000/ bulan selama tahun 2014 – 2017, dan terakhir dengan adanya Dana Desa, upah tersebut diambil dari anggaran desa sebesar Rp 100.000/ bulan (2017 – 2019). Pemerintah turut memberi perhatian melalui Badan Dayah Kab. Pidie dibantu dengan sumbangan wali murid dengan membangun Balai pengajian Al-Hikam pada tahun 2014. 

Desa Paya menjadi target untuk disosialisasikan  program ACBID sehingga dari sosialisasi tersebut terbentuk KSM Inklusi Paya Sejahtera dan Mahdalena terpilih sebagai ketua KSM. Berawal dari bergabung ke Program ACBID, Mahdalena banyak mendapatkan pelatihan-pelatihan penguatan kapasitas seperti DID, Self Advokasi, KSM (Pembukuan & Kewirausahaan, Pengelolaan & pemasaran, Pengorganisasian dll) dan terakhir pelatihan keahlian menjahit selama 3 bulan.  

Dari pelatihan menjahit, Mahdalena telah mampu menjahit baju, jilbab dan mukena yang telah dipasarkan di toko Paloma (online – aneka pesanan) tempat dia bekerja dari tahun 2010 sehingga mendapatkan peningkatan pendapatan selain gaji yang diterima sebagai karyawati.  Mahdalena juga banyak mendapatkan perbaikan/renovasi baju (10.000/ baju) antara 10 – 20 baju/bulan.

Ditengah merebaknya bahaya Virus Corona, ada berkah yang didapat Mahdalena yaitu menerima orderan untuk memproduksi salah satu APD (masker berbahan kain). Awal Maret 2020 Mahdalena mencoba membuat masker dan mempromosikan lewat Media Sosial;WhatsApp, Facebook dan Instagram.  Tidak banyak permintaan awalnya karena persediaan di pasar masih tersedia namun seiring waktu dengan berbagai variasi warna, model dan kualitas yang bagus, pelanggan toko Paloma dan masyarakat  mulai mencari dan membeli masker buatan Mahdalena yang  harganya berkisar antara Rp 5.000 – Rp 10.000/masker tergantung kualitas bahan dan model (1 lapis dan 2 lapis).  

Permintaan  masker semakin banyak sehingga Mahdalena harus bekerjasama dengan pemilik toko yang juga merupakan anggota KSM Paya Sejahtera dan juga salah satu temannya untuk memenuhi permintaan tersebut. Permintaan masker bukan hanya dari individu/pelanggan saja tapi juga dari instansi pemerintah, non pemerintah dan kelompok sosial masyarakat, termasuk PASKA Aceh.  Permintaan hasil jadi masker dengan jangka waktu tertentu membuat Mahdalena harus pintar-pintar mengatur waktu dengan baik, menjahit dengan rapi, menyetrika setelah selesai dijahit, menggunakan bahan kain yang bagus sehingga kualitas masker terjaga dan pelanggan puas akan hasilnya.

Proses pemotongan kain untuk dijahit menjadi masker

Pesanan  dari kelompok – kelompok  sosial masyarakat bervariasi jumlahnya, ada 100 dan 200  masker sehingga total yang telah dijahit dan terjual dari semua pesanan baik Paska Aceh, Kelompok sosial masyarakat, individu adalah  ± 800 masker. 

Saat pemerintah melalui Dana Desa membuat peraturan untuk  menyisihkan anggaran desa dalam penanggulangan wabah Covid -19 ini, Mahdalena mendapat rezeki lagi dengan pemesanan oleh desa Mesjid Jeumpedeng, Kec. Glumpang Baro (21 April 2020) sebanyak 800 masker dengan harga Rp.4.000,-/ masker. Pemesanan ini adalah hasil dari promosi lewat media sosial baik WhatsApp, Facebook dan Instagram  juga dari pelanggan (warga Jeumpedeng) yang membeli di toko Paloma sehingga salah satu perangkat desa Mesjid Jeumpedeng melihat masker tersebut dan tertarik akan variasi warna dan kualitas masker buatan Mahdalena.

Permintaan masker masih berjalan namun tidak sebanyak 2 bulan yang lalu tapi persediaan tetap tersedia di toko Paloma untuk pelanggan yang membutuhkan. Total keseluruhan masker yang telah terjual saat ini adalah ± 1.600 masker dengan keuntungan bersih ± Rp. 2.500.000,-

Mahdalena berterima kasih kepada Paska Aceh melalui program CBM – ACBID yang telah mengikutsertakannya dalam pelatihan-pelatihan penguatan kapasitas yang membuatnya semakin termotivasi, berani dan percaya diri dan bisa memimpin KSM Inklusi Paya Sejahtera. Begitu  juga dalam pelatihan menjahit, ilmu yang didapat sangat berguna, sekarang  mampu menjahit dengan baik sehingga penghasilan/pendapatannya bertambah selain upah/gaji dari toko Paloma.  

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *